Mengelola kertas bekas dan mengubahnya menjadi bahan bacaan di rumah baca dan beasiswa.
Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia pada tahun 2017, pemakaian kertas di Indonesia mencapai 13 juta ton pertahun dan menempati posisi ke-6 dunia dalam hal produksi kertas. Sedangkan di sisi lain, pendidikan anak Indonesia masih memerlukan perhatian. Walaupun kita tahu bahwa pemerintah telah berupaya untuk menggratiskan biaya pendidikan, namun masih ada saja anak yang tidak dapat bersekolah dikarenakan biaya perlengkapan sekolah. Dengan banyaknya konsumsi kertas di Indonesia dan permasalahan biaya perlengkapan sekolah maka kami berinisiatif untuk mengumpulkan kertas bekas dan dikelola untuk menjadi biaya pendidikan anak-anak.
Kami menyediakan drop box di fakultas Hukum Universitas Jambi. Drop box ini berfungsi sebagai tempat pengumpulan kertas bekas. Donatur secara swadaya mengantarkan kertas bekas mereka ke drop box. Sebelumnya para donatur diharuskan untuk memisahkan jenis kertas dan merapikannya, selanjutnya kertas dimasukkan ke dalam drop box dan mereka dapat menunjukkan dukungan dengan cara berswafoto di depan drop box. Kertas bekas yang telah terkumpul diangkut setiap satu minggu sekali. Tim akan menyortir hasil donasi menjadi dua bagian yakni, satu bagian yang masih layak baca diletakkan di Rumah Baca Lentera ArRasyid yang masih satu bagian dengan Beasiswa Kertas. Bagian lainnya dijual dan dana hasil penjualan dipakai untuk biaya perlengkapan sekolah bagi anak yang kurang mampu. Selain menyediakan drop box, kami juga menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mendonasikan kertas bekas mereka. Kami tidak hanya memberikan perlengkapan sekolah secara langsung, namun kami mengajak anak tersebut untuk pergi ke mall untuk memilih barang apa saja saja yang mereka butuhkan untuk perlengkapan sekolah. Hal ini dapat memberikan pengalaman baru bagi anak penerima beasiswa.
