DukungToleransi cover

Karena toleransi tidak bisa hanya diajarkan, toleransi harus dialami dan dirasakan

Cerita dari Ayu Kartika Dewi, Co-founder (+) “Ibu Ayu tidak takut kerusuhan?” (-) “Tidak. Memangnya kenapa?” (+) “Hati-hati Ibu, banyak orang Kristen jahat! Nanti mereka bisa bakar-bakar kita pe rumah.” Kisah tersebut dialami oleh Ayu Kartika Dewi semasa ia tinggal di desa yang dihuni seluruhnya oleh orang Islam, yakni saat Ayu mengajar di SDN Papaloang, Halmahera Selatan, Maluku Utara pada tahun 2010. Pada tahun 1999, sempat terjadi kerusuhan hebat di Ambon yang menyebar luas sampai ke Halmahera Selatan, desa tempat Ayu mengajar. Peristiwa tersebut menyadarkan Ayu bahwa anak-anak itu tidak pernah bertemu dengan orang selain yang beragama Islam, namun mereka begitu takut dan benci pada orang Kristen. Karena anak-anak tidak pernah bertemu dan memiliki interaksi positif dengan orang yang berbeda, mereka menjadi mudah curiga terhadap orang-orang di luar lingkaran mereka. Berangkat dari pengalaman tersebut, pada tahun 2012 Ayu bersama Tim Perumus mendirikan SabangMerauke. Mereka ingin menjaga toleransi dan menjadikan Indonesia tempat yang lebih damai. Bersama para relawan, mereka ingin menghapuskan ketakutan dan kecurigaan atas dasar perbedaan, agar anak-anak bisa mulai mencintai sesama tanpa memandang latar belakang etnis ataupun agama. Mari #DukungToleransi dan berkolaborasi untuk menciptakan Indonesia yang lebih damai!