Semut Semut membuka ruang belajar untuk anak putus sekolah secara gratis
Semut Sumut adalah program yang membuka ruang belajar kepada anak muda usia 16-25 tahun dengan latar belakang pendidikan putus sekolah / putus kuliah karena faktor ekonomi.
Menurut data kementerian Kebudayaan dan Pendidikan RI, tahun 2017 setidaknya ada 9 anak putus sekolah setiap harinya di jenjang SMA, dan 16 anak pada jenjang SMK di Sumatera Utara. Dan dewasa ini, hampir tidak ada yang membicarakan mereka.
Semut Sumut membuka batch 1 dengan menawarkan 4 bidang ilmu, yaitu Videography, Public Speaking, Musik dan Design Graphic. Dengan membagi 40 murid ke 4 bidang program tadi, Semut Sumut komitmen untuk membentuk dan membangun skill mereka.
Ruang belajar ini dibuka secara gratis dan pengajaran dilakukan dalam waktu 1 tahun. Meskipun gratis, Semut Sumut tetap mengajarkan mereka dengan modul dan metode yang profesional, serta dengan jadwal belajar 1 minggu 2 kali pertemuan, dan 90 menit setiap pertemuannya.
Semut Sumut mengumpulkan pengajar dari kalangan profesional di bidangnya, 1 bidang ilmu terdiri dari 5 orang pengajar. Kenapa 5 orang? Karena Semut Sumut tidak bisa membayar para pengajar, jadi Semut Sumut tidak ingin waktu mereka terkunci hanya untuk program ini, jadi 5 orang pengajar bisa lebih meringankan jadwal mereka. Meskipun pengajarnya banyak, tetap tidak terganggu, karena proses belajar dijalankan berdasarkan modul.
Selain memberikan pelajaran, Semut Sumut juga melakukan evaluasi, penilaian, hingga memberikan mereka pekerjaan kecil untuk jadi pengalaman buat mereka. Dan setelah periode belajar selesai, Semut Sumut juga akan memberikan mereka akses pekerjaan ke perusahaan-perusahaan, berdasarkan portofolio yang mereka punya serta skill yang telah dilatih.
Semut Sumut tidak memiliki sumber daya apapun, melainkan sepetak ruangan hasil dari kolaborasi bersama. Tapi, itu tidak menjadi hambatan apapun buat Semut Sumut, karena Semut Sumut adalah tempat buat semua pihak yang ingin berbagi 'panggung' yang sama dengan mereka-mereka yang selama ini tidak bisa naik ke 'panggung' tersebut.
Jika kita sepakat semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru, maka dengan hadirnya Semut Sumut, kita ingin pembicaraan soal kesempatan kerja, peran ditengah masyarakat, serta akses untuk berkarya, tidak lagi soal ijazah apa yang kita miliki, melainkan soal skill apa yang kita punya.
