#ForABetterWorldID

Yuk Intip! Pelajaran Penting dari Seminar Jurnalisme Inklusif Era AI untuk Isu HKSR

profile

campaign

Update


Changemakers pasti sudah tahu bahwa perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) saat ini sudah membawa dampak yang sangat besar bagi berbagai sektor, termasuk media dan jurnalisme. Di satu sisi, AI juga bisa mempermudah proses produksi dan verifikasi data. Namun di sisi lain, tantangan besar juga muncul terkait etika, inklusivitas, dan keadilan gender dalam pemberitaan. 

Menyikapi hal ini, RNW Media, bekerja sama dengan Campaign for Good dan Yayasan Gemilang Sehat Indonesia, menyelenggarakan seminar bertajuk “Jurnalisme Inklusif dan Sensitif Gender di Era AI untuk Isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR)” pada Kamis, 21 Agustus, di Hotel Menteng, Jakarta Pusat. Kegiatan ini didukung oleh program RHRN2 dan Masarouna, serta merupakan bagian dari kampanye global #MediaFreedomInAIEra.


1. Sebenarnya Apa Sih Tujuan Seminar Ini? Dan Siapa Pesertanya?

Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para jurnalis perempuan, aktivis, dan praktisi media dalam mengangkat isu HKSR dengan perspektif gender yang adil. Para peserta jurnalis perempuan yang hadir mencerminkan keberagaman, mulai dari jurnalis independen, pegiat media konvensional, hingga jurnalis media digital. Sehingga dari kegiatan ini diharapkan mampu membekali peserta dengan keterampilan baru, wawasan kritis, dan cara berpikir kreatif dalam mengelola konten di era digital.


2. Topik Hangat yang Jadi Sorotan dalam Seminar

Rangkaian acara dalam seminar ini mencakup diskusi panel, studi kasus, dan sesi praktik langsung. Beberapa fokus utama yang dibahas oleh peserta dan pemateri meliputi:

a. Mengidentifikasi Bias Gender dalam Media: Peserta dilatih untuk peka terhadap bias dalam pemilihan narasumber, framing berita, dan penyajian informasi.

b. Pemanfaatan AI secara Etis: Bagaimana AI dapat mendukung proses verifikasi data dan pemberitaan tanpa mengurangi sentuhan humanis yang penting dalam jurnalisme.

c. Membangun Narasi yang Inklusif dan Berimbang: Mendorong media untuk menyajikan perspektif yang adil dan mewakili berbagai kelompok, terutama yang rentan.

Baca Juga: Stigma Perempuan Di Dunia Kerja Bareng Jurnalis Voxpop.id


3. Menghadirkan Para Pembicara Utama Profesional di Bidang Jurnalisme

Tak hanya itu, seminar ini juga menghadirkan tiga pembicara profesional yang memberikan pandangan mendalam dari sisi redaksi, organisasi masyarakat, dan lapangan.


image

Berikut para pembicara dalam seminar ini:

a. Aisha Shaidra (Jurnalis Tempo) yang membagikan pengalaman praktis dalam meliput isu sensitif, serta menekankan pentingnya empati dan pemilihan kata yang tepat untuk menghindari reviktimisasi.

b. Purnama Ayu Rizky (Managing Editor Magdalene) yang menyoroti tantangan bias media dan pentingnya etika jurnalistik di tengah algoritma AI yang sering memperkuat stereotip gender.

c. Indira Susatio (Communication & Campaign Manager Yayasan Gemilang Sehat Indonesia) yang membahas pentingnya komunikasi sensitif gender dan kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat pemahaman publik mengenai isu HKSR.

Baca Juga: Siapa Bilang Jadi Jurnalis itu Mudah?


4. Aktivitas Seru: Sesi Interaktif & Workshop

Selain pemaparan materi dari para pembicara, peserta juga ikut terlibat langsung dalam berbagai sesi interaktif, seperti workshop penulisan konten inklusif, review berita yang bias, dan eksplorasi penggunaan AI untuk mendukung jurnalisme yang lebih etis. Melalui pendekatan ini, peserta dapat belajar sambil mempraktikkan langsung, sehingga materi yang diterima lebih aplikatif. 

image

Menariknya, acara ini juga terhubung dengan platform Campaign for Good, yang memungkinkan peserta dan masyarakat luas untuk saling terhubung, melakukan aksi sosial secara digital, melanjutkan diskusi, dan berkontribusi dalam advokasi digital untuk isu kebebasan pers serta inklusivitas media.


5. Pesan Inspiratif dari Para Pemimpin: AI Bukan Ancaman, tapi Partner Jurnalisme

Seminar ini juga menghadirkan pesan mendalam dari para pemimpin organisasi yang berperan penting dalam mendorong ekosistem media yang lebih inklusif dan etis. Mereka menekankan bagaimana peran teknologi, khususnya AI, seharusnya dilihat sebagai sarana yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan malah sebaliknya.


William Gondokusumo (CEO Campaign for Good) menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara manusialah yang menentukan arah penggunaannya. Menurutnya, AI seharusnya bisa mempermudah kolaborasi lintas sektor, memperkuat transparansi, dan membuka ruang partisipasi yang lebih luas. 

"Teknologi harus menjadi jembatan, bukan penghalang. Kolaborasi adalah kunci untuk menciptakan ruang digital yang adil dan transparan," jelasnya.

Sementara itu, Wouter van Tongeren (CEO RNW Media) menekankan pentingnya kebebasan pers di tengah gempuran teknologi baru. Ia mengingatkan bahwa jurnalisme tidak hanya soal data, tetapi juga menyangkut nilai demokrasi dan keadilan sosial. 

“Kebebasan media adalah fondasi demokrasi. Di era AI, peluang dan tantangan sama besarnya. Kami berkomitmen memastikan teknologi digunakan untuk memperkuat suara-suara yang terpinggirkan,” ungkapnya.

Nah, seminar ini menjadi bukti bahwa teknologi dan kemanusiaan pada dasarnya dapat berjalan berdampingan. Seperti upaya yang dilakukan melalui kampanye #MediaFreedomInAIEra, RNW Media dan Campaign mendorong jurnalis, aktivis, dan generasi muda untuk lebih kritis, sensitif, dan kreatif dalam menyuarakan isu HKSR, karena kehadiran AI bukan ancaman, melainkan dapat menjadi partner untuk memperkuat jurnalisme yang lebih etis dan inklusif.

heart

Hearts

heart

Komentar

Comment

Done
Download the Campaign for Good app for a better world!
Skyrocket your social impact and let's change the world together.
img-android
img-playstore
img-barcode
img-phone
img-phone